Archive for July, 2006

Bola hitam dan Putih

Tuesday, July 25th, 2006

Ceritanya ada seorang anak cowok tunggal yang ditinggal mati nyokapnya pas
ngelahirin dia. Sejak itu bokapnya jadi amat sangat workaholic sekali dan
nggak married2 lagi. Ini anak tapi baek hati dan lemah lembut walaupun cuma
bareng pengasuh aja.

Pas TK, sementara anak2 laen udah punya sepeda dia masih jalan kaki.
Pengasuhnya ngadu ke bokapnya, "Tuan, nggak kasian sama den Bagus ? Masa
sepeda nggak punya…apa tuan juga nggak malu?" Iya..nih..bokapnya tuh tajir
banget deh. Punya sekian perusahaan.. maka dipanggillah si anak, ditawarin
mau sepeda yang kayak gimana merek apa..dan si anak cuma bilang, "Nggak usah
repot2 pi, aku dibeliin bola item bola putih aja.." Lho kok gitu? Bingung
dong bokapnya. "Kenapa bola item dan putih?" "Nggak usah diterangin deh pi.
Kalo papi punya uang yaa..beliin itu aja." Yah, mengingat mereka nggak
pernah ngobrol, jadi papinya nerima2 aja. Nggak berminat lanjutin, maka
dibeliin lah tu anak sepeda generasi terbaru saat itu, yang paling canggih,
plus bola item dan bola putih.

Trus ni anak masuk SD lah. Pas itu musim sepatu roda. Sekian lama pengasuh
pratiin, ni anak nggak minta2 dibeliin sepatu roda sama papinya. Sore2 cuma
duduk aja. Sepedanya juga ditaruh di gudang. Lagi nggak musim. Pengasuhnya
laporan pandangan mata dong ke tuannya hingga si anak dipanggil lagi. "Nak,
kamu mau dibeliin sepatu roda kayak temen2 kamu? kok nggak bilang2 papi.
Nggak masalah cuma beli sepatu roda aja…". Si anak bilang,"nggak pi, bola
item dan bola putih saya udah rusak.. dibeliin lagi aja..nggak usah beli
sepatu roda. Lagian lebih murah bola kan pi?" Yee..si papi geram dong. Ni
anak ngeremehin papinya sendiri, atau sok merendah ? So, tetep si papi
beliin sepatu roda, plus bola item dan bola putih.

Selang beberapa taun, ni anak masuk SMP. Cerita sama terulang. Sekarang
temen2nya musim rollerblade. Tren baru. Sementara sore hari, dia masih setia
sama sepatu rodanya. Pas bokapnya pulang dari luar negri dan ngeliat anaknya
doang yang pake sepatu roda, si papi malu banget. Gila, rumah gedong,
perusahaan banyak, keluar negri terus…eeh anaknya ketinggalan jaman.
Besoknya, di kamar anaknya udah ada sepasang roller blade baru dengan note:
"Biar kamu nggak malu". Malemnya di ruang kerja papinya ada note balesan:
"Pi, kok nggak beliin bola item dan bola putih? Aku lebih suka itu." Weleh,
si papi pas liat note itu dongkol tambah bingung. Apaan sih istimewanya bola
item dan bola putih? Emang bisa bikin die beken atau nge-tren? Besoknya dan
besoknya lagi si papi berkali2 nemuin note itu…hingga dia nggak tahan dan
membelikan anaknya bola item dan bola putih untuk kesekian kalinya. Bener,
setelah dapet tu bola, si anak nggak ngerongrong bokapnya lagi.

Pas SMA, yang jaraknya rada jauh, si anak masih berbis ria, temen2nya udah
ada yang bawa motor en mobil ke sekolahan. Suatu hari, tumben papinya di
rumah, si anak pulang dianterin temennya yang mau ditebengin. Papi malu
banget. Masa cuma untuk anak satu nggak bisa beliin mobil? Maka ditawarin
anaknya. Si anak nolak dengan alasan mobil kurang praktis, lagian pengen
bola item bola putih aja. Si bapak nggak terima penolakan. Karna anaknya
udah gede, bisa berunding. Hingga tercetus keputusan si anak dibeliin motor
plus bola item dan bola putih tentunya. Dan si bapak kesel juga dunk. Udah
berapa taun dia beberapa kali beliin dua macem bola itu tanpa tau kenapa.
Tapi si anak nggak ada keinginan dan kemauan ngasih tau sih.

Hingga tibalah masa kuliah. Karna seneng dan bangga masuk PTN, si anak
dikadoin mobil. Sampe beberapa bulan si anak masih naek motoor aja. Kuliah,
pacaran, naek motor aja. Pacarnya juga bingung, kan dia punya mobil? Ditanya
sama pacaranya, dijawab, abis papi nggak beliin bola item bola putih. Nggak
ngerti anak sendiri sih! So, pas makan malem bersama, si pacar bilang sama
papi, kenapa si om nggak beliin bola item bola putih. Si papi sebenernya
sensitif sama para bola itu..huh..sampe pacar anak gue nyuruh2..ditanya dong
kenapa. Si pacar bilang kalo mobilnya nggak akan dipake selama nggak dikasih
bola itu juga. Papi bingung dong, di kamar anaknya udah segitu banyak bola
item bola putih. Buat apa sih, pikir papi. Tapi demi gengsi, anak orang lho
yang nanya, maka besoknya udah ada bola item bola putih buat anaknya.

Suatu hari anaknya gaul ke puncak bawa mobil, sama pacarnya. Yah, namanya
anak muda, pas lagi di jalan, si pacar nyium dia en dia jadi grogi dan
kecelakaan!!! Segera di bawa ke rumah sakit si papi juga ditelpon sama rumah
sakitnya. Tabrakannya parah. Mereka berdua nggak ada yang pake seatbelt,
yang cewek mati seketika dan ni cowok udah sekarat. Si papi dateng ke
RS.."gimana dok, anak saya?" Dokter (dengan tampang empati penuh duka cita)
:"Maaf pak, kami tidak dapat berbuat banyak.. sepertinya memang sudah
waktunya… sebaiknya bapak manfaatkan waktu terakhir.." Perlahan si bapak
masuk, nyamperin anaknya. "Pap, maafin saya..nggak hati2 bawa mobilnya.." si
anak juga nangis karna pacarnya nggak tertolong. Si papi nenangin
dia…akrablah dua manusia itu beberapa saat. Hingga si papi beranggapan ini
saat terakhir. Dia inget penasaran dia tentang kenapa si anak selama ini
selalu minta bola item bola putih. "Nak, maafin papi selama ini yang selalu
sibuk..kamu jadi kesepian..maafin papi, nak. Nggak sempet jadi orang tua
yang baik." Anaknya jawab,"nggak apa-apa pi, saya ngerti kok..Cuma sempet
kesel kalo papi punya uang lebih malah beliin yang macem2….saya cuma minta
bola item dan bola putih aja kan?" Si papi rasa timing-nya tepat nih,
"KENAPA SIH KAMU SELALU MINTA BOLA ITEM BOLA PUTIH…ADA APA DENGAN BOLA2
ITU?" (pembaca juga penasaran ya..?)

Si anak jawab dengan terpatah2 dan susah banget, abis udah sekarat dan
masanya udah hampir sampe…"sebab pi…saya…" *hep* Kepalanya rebah dan
nafasnya ilang. Si anak udah meninggal sebelum kasih tau papinya.

hehehe…emang enak dikerjain

Anak itu

Tuesday, July 25th, 2006

“Jangan! Jangan ambil uangku, aku sudah lama mengumpulkan uang ini, ini buat berobat ibuku, ibuku sakit keras, ibuku sangat memerlukan uang ini. Jangan ambil uangku,” suara itu masih terngiang di telinga Parto.

Sudah empat tahun berlalu tapi dia tak bisa menghilangkan bayangan suara anak itu, seolah-olah anak itu selalu mengikutinya. entah rasa bersalah atau apa yang pasti sejak kejadian itu hidupnya tidak tenang. Dan ia akan tertawa terbahak bahak, anak itu menangis tersedu, dan ia akan terus menunggu anak itu.

***

“Abang ini bagaimana, becus nggak sih cari uang. Anakmu sudah dua hari hanya makan nasi sama garam, belum lagi biaya sekolah nunggak tiga bulan. Bukankah kamu tak ingin anak-anak kita bernasib sama dengan kita,” seperti pagi-pagi sebelumnya istri Parto mulai uring-uringan, hari masih pagi, Parto baru saja terjaga dari tidurnya, sudah disapa oleh uringan istrinya.

“Diam!” bentaknya. “Aku juga sudah tahu, bukannya aku tak peduli, tapi bagai mana lagi, kamu juga tahu aku baru saja di PHK, bukankah uang pesangon masih ada, beri aku waktu untuk cari kerjaan baru,” Parto sudah tidak bisa menahan emosinya, ia sudah bosan dengan omongan istrinya.

“Hah uang pesangon katamu? Uangmu sudah habis sebulan lalu. dan kamu, apa usahamu semenjak di PHK kau hanya tidur, minum, berjudi. Suami macam apa kamu ini. Kalau saja aku tak kerja keras cari kerjaan serabutan kesana-kemari, mungkin kamu sudah jadi bangkai sejak kemarin dulu. Apakah kamu tidak tahu kalau selama ini kamu makan dari hasil cucuran keringatku?” istrinya tak mau kalah.

Sebenarnya kala itu Parto sangat merasa bersalah, namun bagai manapun juga sebagai seorang lelaki ia tak mau harga dirinya direndahkan seperti itu. “Hah, baru segitu saja kau sudah bangga, sudah berani merendahkan aku, sudah mersa berjasa ya? Apakah kau tidak tahu, aku bekerja untuk makan kau dan anakmu sudah hampir sepuluh tahun, aku tak pernah membanggakan diri,” Parto mulai naik pitam.

“Tapi, Bang, bukan itu maksudku, aku hanya…”

“Diam kau, aku muak mendengar ocehanmu,” ia meraih kendi air di sebelah tempat tidurnya, dengan emosi ia lemparkan ke arah istrinya.

Brakk! Pecahan kendi berserakan kemana-mana. Untung saja istri Parto masih sempat mengelak. Ia berlari ke kamar dan menguncinya dari dalam.

“Hai keluar kau! Dasar istri kurang ajar, beraninya kau menghinaku,” Parto mulai
kehilangan kendali.

***
Dua hari ini Parto malas balik ke rumahnya. Ia sudah bosan dengan ocehan istrinya, ia sudah muak direndahkan. Ia menghabiskan waktunya dengan berjudi dan minum-minum. Tapi ia perlu uang juga, lama-lama uangnya menipis, sedangkan ia terlalu gengsi untuk minta ke istrinya. Akhirnya Parto pulang juga walau bagaimana pun istrinya pasti akan memberinya uang, begitu pikirnya, bukankah ia bisa mengancamnya. Dengan sempoyongan ia balik ke rumahnya, ia mabuk berat, rumahnya yang hanya beberapa ratus meter dari warung darjo tempat ia mabuk-mabuk dan main judi terasa jauh sekali.

***
Malam itu sangat sepi, tampak seorang bocah penyemir sepatu menghitung uangnya hasil upah kerjanya seharian, rupanya penghasilannya saat ini cukup besar. Dengan hati riang dia timang timang uang itu, dia tak mengira kalau dia terancam bahaya, dan mungkin uangnya akan segera berpindah tangan.

Parto memperhatikan dengan jelas apa yang dilakukan anak itu. Terbersit dipikirannya untuk memiliki uang itu. Tentu saja di saat ini ia sangat membutuhkan uang. Mungkin istrinya tak akan ngomel terus bila ia memberi uang, dan ia akan menikmati kembali tubuh istrinya yang sudah dua bulan ia tak menikmatinya.

***

“Rokayah, buka pintu! Aku bawa uang sekarang, kau tak perlu mengomeliku hari ini, dan tentu saja kau mau melayaniku malam ini, bukan?” Parto memanggil istrinya.

“Sebentar, Bang!” jawab istrinya.

Pintu pun terbuka, Parto masuk dan langsung merebahkan diri di sofa yang bolong-bolong di sana-sini.

“Hai, Bang, dapat uang dari mana kamu?” tanya istrinya.

“Aah, kau tak perlu tahu dari mana uang ini. Yang penting uang ini cukup untuk kau dan anakmu makan seminggu, setelah itu aku akan cari lagi,” sergah Parto mulai naik pitam.

“Bukan begitu, Bang, aku takut kamu berbuat yang tidak-tidak,” jawab istrinya.

“Rupanya kau tidak percaya kepadaku?” tanya Parto.

“Tidak, Bang, aku percaya sama kamu,” istrinya tak mau terus berdebat. “O, aku lupa ada berita baik untukmu, perusahaan tempat kerjamu dulu memangilmu untuk bekerja kembali, ini surat pemanggilannya,” kata istri Parto sambil menyerahkan surat itu.

Parto tercengang, rupanya ia sedikit menyesal, kalau tahu begini ia mungkin tak perlu merampok anak itu.

***

Satu tahun berlalu, kini Parto dan keluargan sudah hidup mapan, tapi ada satu yang masih menjadi beban pikirannya, ia ingin mengembalikan uang yng dulu ia rampok, setiap malam setelah dia pulang kerja ia akan menunggu anak itu ijmbatan tempat dulu ia merampok anak itu. Namun anak itu bagai menghilang ditelan bumi. Ia tak pernah muncul lagi.

“Bagaimana nasib anak itu, apakah ibunya sembuh atau mati, ataukah anak itu mati kelaparan setelah ditinggal ibunya,” mungkin itu yang dipikirkan Parto selama ini.

***

Seperti biasa malam itu Parto masih menunggu kedatangan anak itu, ia berharap suatu saat rasa berdosanya akan dapat hilang, dua jam ia menunggu, anak itu tak muncul juga, uang itu masih digenggamnya. Sekonyong-konyong seseorang merebut uang itu dan berlari, Parto kaget.

“Jambret, maliing,” teriaknya. Tapi kala itu jalan sangat sep, tak ada yang mendengar teriakannya. Bergegas ia mengejar anak itu. Ia raih batu besar di pinggir jalan, ia lemparkan ke arah anak itu, dan bruk! anak itu tersungkur ke jalan aspal. Lemparan Parto tepat mengenai kepala anak itu.

Malang nasib anak itu. Sebelum Parto menghampirinya, sebuah sedan melaju dengan kencang. Dan brak! Anak itu tergilas.

Tiba-tiba semua hening. Parto menghampiri anak itu, dan menatap wajahnya, Parto tercengang, rupanya anak itu, ya, itu adalah anak yang dia rampok dulu.

“Tidak, jangan, jangan mati, aku belum mengembalikan uangmu, tidaaak!” teriaknya. “Aku membunuhnya… Aku membunuhnya, tidaaak!!!”

Tragis pokonya

Monday, July 24th, 2006

25 tahun yang lalu,
Inikah nasib? Terlahir sebagai menantu bukan pilihan.
Tapi aku dan Kania harus tetap menikah. Itu sebabnya
kami ada di Kantor Catatan Sipil. Wali kami pun wali
hakim. Dalam tiga puluh menit, prosesi pernikahan kami
selesai. Tanpa sungkem dan tabur melati atau hidangan
istimewa dan salam sejahtera dari kerabat. Tapi aku
masih sangat bersyukur karena Lukman dan Naila mau
hadir menjadi saksi. Umurku sudah menginjak seperempat
abad dan Kania di bawahku. Cita-cita kami sederhana,
ingin hidup bahagia.

22 tahun yang lalu,
Pekerjaanku tidak begitu elit, tapi cukup untuk biaya
makan keluargaku. Ya, keluargaku. Karena sekarang aku
sudah punya momongan. Seorang putri, kunamai ia
Kamila. Aku berharap ia bisa menjadi perempuan
sempurna, maksudku kaya akan budi baik hingga dia
tampak sempurna. Kulitnya masih merah, mungkin karena
ia baru berumur seminggu. Sayang, dia tak dijenguk
kakek-neneknya dan aku merasa prihatin. Aku harus bisa
terima nasib kembali, orangtuaku dan orangtua Kania
tak mau menerima kami. Ya sudahlah. Aku tak berhak
untuk memaksa dan aku tidak membenci mereka. Aku hanya
yakin, suatu saat nanti, mereka pasti akan berubah.

19 tahun yang lalu,
Kamilaku gesit dan lincah. Dia sekarang sedang senang
berlari-lari, melompat-lompat atau meloncat dari meja
ke kursi lalu dari kursi ke lantai kemudian berteriak
"Horeee, Iya bisa terbang". Begitulah dia memanggil
namanya sendiri, Iya. Kembang senyumnya selalu merekah
seperti mawar di pot halaman rumah. Dan Kania tak
jarang berteriak, "Iya sayaaang," jika sudah terdengar
suara "Prang". Itu artinya, ada yang pecah, bisa vas
bunga, gelas, piring, atau meja kaca. Terakhir cermin
rias ibunya yang pecah. Waktu dia melompat dari tempat
tidur ke lantai, boneka kayu yang dipegangnya
terpental. Dan dia cuma bilang "Kenapa semua kaca di
rumah ini selalu pecah, Ma?"

18 tahun yang lalu,
Hari ini Kamila ulang tahun. Aku sengaja pulang lebih
awal dari pekerjaanku agar bisa membeli hadiah dulu.
Kemarin lalu dia merengek minta dibelikan bola. Kania
tak membelikannya karena tak mau anaknya jadi tomboy
apalagi jadi pemain bola seperti yang sering
diucapkannya. "Nanti kalau sudah besar, Iya mau jadi
pemain bola!" tapi aku tidak suka dia menangis terus
minta bola, makanya kubelikan ia sebuah bola. Paling
tidak aku bisa punya lawan main setiap sabtu sore. Dan
seperti yang sudah kuduga, dia bersorak kegirangan
waktu kutunjukkan bola itu. "Horee, Iya jadi pemain
bola."

17 Tahun yang lalu
Iya, Iya. Bapak kan sudah bilang jangan main bola di
jalan. Mainnya di rumah aja. Coba kalau ia nurut,
Bapak kan tidak akan seperti ini. Aku tidak tahu
bagaimana Kania bisa tidak tahu Iya menyembunyikan
bola di tas sekolahnya. Yang aku tahu, hari itu hari
sabtu dan aku akan menjemputnyanya dari sekolah.
Kulihat anakku sedang asyik menendang bola sepanjang
jalan pulang dari sekolah dan ia semakin ketengah
jalan. Aku berlari menghampirinya, rasa khawatirku
mengalahkan kehati-hatianku dan "Iyaaaa". Sebuah truk
pasir telak menghantam tubuhku, lindasan ban besarnya
berhenti di atas dua kakiku. Waktu aku sadar, dua
kakiku sudah diamputasi. Ya Tuhan, bagaimana ini.
Bayang-bayang kelam menyelimuti pikiranku, tanpa kaki,
bagaimana aku bekerja sementara pekerjaanku mengantar
barang dari perusahaan ke rumah konsumen. Kulihat
Kania menangis sedih, bibir cuma berkata "Coba kalau
kamu tak belikan ia bola!"

15 tahun yang lalu,
Perekonomianku morat marit setelah kecelakaan. Uang
pesangon habis untuk ke rumah sakit dan uang tabungan
menguap jadi asap dapur. Kania mulai banyak mengeluh
dan Iya mulai banyak dibentak. Aku hanya bisa
membelainya. Dan bilang kalau Mamanya sedang sakit
kepala makanya cepat marah. Perabotan rumah yang bisa
dijual sudah habis. Dan aku tak bisa berkata apa-apa
waktu Kania hendak mencari ke luar negeri. Dia ingin
penghasilan yang lebih besar untuk mencukupi kebutuhan
Kamila. Diizinkan atau tidak diizinkan dia akan tetap
pergi. Begitu katanya. Dan akhirnya dia memang pergi
ke Malaysia.

13 tahun yang lalu,
Setahun sejak kepergian Kania, keuangan rumahku
sedikit membaik tapi itu hanya setahun. Setelah itu
tak terdengar kabar lagi. Aku harus mempersiapkan uang
untuk Kamila masuk SMP. Anakku memang pintar dia
loncat satu tahun di SD-nya. Dengan segala
keprihatinan kupaksakan agar Kamila bisa melanjutkan
sekolah. aku bekerja serabutan, mengerjakan pekerjaan
yang bisa kukerjakan dengan dua tanganku. Aku miris,
menghadapi kenyataan. Menyaksikan anakku yang tumbuh
remaja dan aku tahu dia ingin menikmati dunianya. Tapi
keadaanku mengurungnya dalam segala kekurangan. Tapi
aku harus kuat. Aku harus tabah untuk mengajari Kamila
hidup tegar.

10 tahun yang lalu,
Aku sedih, semua tetangga sering mengejek kecacatanku.
Dan Kamila hanya sanggup berlari ke dalam rumah lalu
sembunyi di dalam kamar. Dia sering jadi bulan-bulanan
hinaan teman sebayanya. Anakku cantik, seperti ibunya.
"Biar cantik kalo kere ya kelaut aje." Mungkin itu
kata-kata yang sering kudengar. Tapi anakku memang
sabar dia tidak marah walau tak urung menangis juga.

"Sabar ya, Nak!" hiburku.
"Pak, Iya pake jilbab aja ya, biar tidak diganggu!"
pintanya padaku. Dan aku menangis. Anakku maafkan
bapakmu, hanya itu suara yang sanggup kupendam dalam
hatiku. Sejak hari itu, anakku tak pernah lepas dari
kerudungnya. Dan aku bahagia. Anakku, ternyata kamu
sudah semakin dewasa. Dia selalu tersenyum padaku. Dia
tidak pernah menunjukkan kekecewaannya padaku karena
sekolahnya hanya terlambat di bangku SMP.

7 tahun yang lalu,
Aku merenung seharian. Ingatanku tentang Kania,
istriku, kembali menemui pikiranku. Sudah
bertahun-tahun tak kudengar kabarnya. Aku tak mungkin
bohong pada diriku sendiri, jika aku masih menyimpan
rindu untuknya. Dan itu pula yang membuat aku takut.
Semalam Kamila bilang dia ingin menjadi TKI ke
Malaysia. Sulit baginya mencari pekerjaan di sini yang
cuma lulusan SMP. Haruskah aku melepasnya karena
alasan ekonomi. Dia bilang aku sudah tua, tenagaku
mulai habis dan dia ingin agar aku beristirahat. Dia
berjanji akan rajin mengirimi aku uang dan menabung
untuk modal. Setelah itu dia akan pulang, menemaniku
kembali dan membuka usaha kecil-kecilan. Seperti
waktu lalu, kali ini pun aku tak kuasa untuk
menghalanginya. Aku hanya berdoa agar Kamilaku
baik-baik saja.

4 tahun lalu,
Kamila tak pernah telat mengirimi aku uang. Hampir
tiga tahun dia di sana. Dia bekerja sebagai seorang
pelayan di rumah seorang nyonya. Tapi Kamila tidak
suka dengan laki-laki yang disebutnya datuk. Matanya
tak pernah siratkan sinar baik. Dia juga dikenal suka
perempuan. Dan nyonya itu adalah istri mudanya yang
keempat. Dia bilang dia sudah ingin pulang. Karena
akhir-akhir ini dia sering diganggu. Lebaran tahun ini
dia akan berhenti bekerja. Itu yang kubaca dari
suratnya. Aku senang mengetahui itu dan selalu
menunggu hingga masa itu tiba. Kamila bilang, aku
jangan pernah lupa salat dan kalau kondisiku sedang
baik usahakan untuk salat tahajjud. Tak perlu
memaksakan untuk puasa sunnah yang pasti setiap bulan
Ramadhan aku harus berusaha sebisa mungkin untuk kuat
hingga beduk manghrib berbunyi. Kini anakku lebih
pandai menasihati daripada aku. Dan aku bangga.

3 tahun 6 bulan yang lalu,
Inikah badai? Aku mendapat surat dari kepolisian
pemerintahan Malaysia, kabarnya anakku ditahan. Dan
dia diancam hukuman mati, karena dia terbukti membunuh
suami majikannya. Sesak dadaku mendapat kabar ini. Aku
menangis, aku tak percaya. Kamilaku yang lemah lembut
tak mungkin membunuh. Lagipula kenapa dia harus
membunuh. Aku meminta bantuan hukum dari Indonesia
untuk menyelamatkan anakku dari maut. Hampir setahun
aku gelisah menunggu kasus anakku selesai. Tenaga
tuaku terkuras dan airmataku habis. Aku hanya bisa
memohon agar anakku tidak dihukum mati andai dia
memang bersalah.

2 tahun 6 bulan yang lalu,
Akhirnya putusan itu jatuh juga, anakku terbukti
bersalah. Dan dia harus menjalani hukuman gantung
sebagai balasannya. Aku tidak bisa apa-apa selain
menangis sejadinya. Andai aku tak izinkan dia pergi
apakah nasibnya tak akan seburuk ini? Andai aku tak
belikan ia bola apakah keadaanku pasti lebih baik? Aku
kini benar-benar sendiri. Wahai Allah kuatkan aku.

Atas permintaan anakku aku dijemput terbang ke
Malaysia. Anakku ingin aku ada di sisinya disaat
terakhirnya. Lihatlah, dia kurus sekali. Dua matanya
sembab dan bengkak. Ingin rasanya aku berlari tapi apa
daya kakiku tak ada. Aku masuk ke dalam ruangan
pertemuan itu, dia berhambur ke arahku, memelukku
erat, seakan tak ingin melepaskan aku.

"Bapak, Iya Takut!" aku memeluknya lebih erat lagi.
Andai bisa ditukar, aku ingin menggantikannya.

"Kenapa, Ya, kenapa kamu membunuhnya sayang?"
"Lelaki tua itu ingin Iya tidur dengannya, Pak. Iya
tidak mau. Iya dipukulnya. Iya takut, Iya dorong dan
dia jatuh dari jendela kamar. Dan dia mati. Iya tidak
salah kan, Pak!" Aku perih mendengar itu. Aku iba
dengan nasib anakku. Masa mudanya hilang begitu saja.
Tapi aku bisa apa, istri keempat lelaki tua itu
menuntut agar anakku dihukum mati. Dia kaya dan lelaki
itu juga orang terhormat. Aku sudah berusaha untuk
memohon keringanan bagi anakku, tapi menemuiku pun ia
tidak mau. Sia-sia aku tinggal di Malaysia selama enam
bulan untuk memohon hukuman pada wanita itu.

2 tahun yang lalu,
Hari ini, anakku akan dihukum gantung. Dan wanita itu
akan hadir melihatnya. Aku mendengar dari petugas jika
dia sudah datang dan ada di belakangku. Tapi aku tak
ingin melihatnya. Aku melihat isyarat tangan dari
hakim di sana. Petugas itu membuka papan yang diinjak
anakku. Dan ‘blass" Kamilaku kini tergantung. Aku tak
bisa lagi menangis. Setelah yakin sudah mati, jenazah
anakku diturunkan mereka, aku mendengar langkah kaki
menuju jenazah anakku. Dia menyibak kain penutupnya
dan tersenyum sini. Aku mendongakkan kepalaku, dan
dengan mataku yang samar oleh air mata aku melihat
garis wajah yang kukenal.

"Kania?"
"Mas Har, kau … !"
"Kau … kau bunuh anakmu sendiri, Kania!"

"Iya? Dia..dia . Iya?" serunya getir menunjuk jenazah
anakku.

"Ya, dia Iya kita. Iya yang ingin jadi pemain bola
jika sudah besar."

"Tidak … tidaaak … " Kania berlari ke arah jenazah anakku.
Diguncang tubuh kaku itu sambil menjerit histeris.
Seorang petugas menghampiri Kania dan memberikan
secarik kertas yang tergenggam di tangannya waktu dia
diturunkan dari tiang gantungan. Bunyinya "Terima
kasih Mama." Aku baru sadar, kalau dari dulu Kamila
sudah tahu wanita itu ibunya.

Setahun lalu,
Sejak saat itu istriku gila. Tapi apakah dia masih
istriku. Yang aku tahu, aku belum pernah
menceraikannya. Terakhir kudengar kabarnya dia mati
bunuh diri. Dia ingin dikuburkan di samping kuburan
anakku, Kamila. Kata pembantu yang mengantarkan
jenazahnya padaku, dia sering berteriak, "Iya
sayaaang, apalagi yang pecah, Nak." Kamu tahu Kania,
kali ini yang pecah adalah hatiku. Mungkin orang tua
kita memang benar, tak seharusnya kita menikah. Agar
tak ada kesengsaraan untuk Kamila anak kita. Benarkah
begitu Iya sayang?

Sumber : TRUE STORY